Selasa, 30 Desember 2008

Laki-Laki yang Sholeh Hanya untuk Wanita yang Sholehah



“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,laki-laki yang keji untuk wanita yang keji pula.wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik,dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula..” Allah telah berfirman dengan jelas dalam An-Nur 26 seperti ini.Itu berarti formula untuk mendapatkan pasangan hidup telah pula ditegaskan.Dulu..saya berpikir lantas apakah wanita yang tidak baik tidak berhak mendapat laki-laki yang baik? atau sebaliknya?.. Firman Allah memang tidak bisa ditelan mentah-mentah,tetapi jika kita renungkan kembali,semua yang difirmankan Allah adalah benar adanya dan pasti bermanfaat untuk kebaikan manusia.

Banyak sekali laki-laki berkata:”aku ingin mendapat istri yang sholehah” akan tetapi ia sendiri tidak melihat dirinya masih berperilaku layaknya playboy,gonta-ganti pacar,pegang-pegang wanita yang bukan muhrimnya,cipika-cipiki sana sini,sholat sering ditinggalkan,mendengar adzan diabaikan. Lantas bagaimana ia akan mendapat wanita yang sholehah sedang dirinya sendiri tidak sholeh?

Demikian pula wanita berharap:”aku ingin mendapat suami yang sholeh” akan tetapi ia masih mengenakan rok mini di atas lutut,atasan tank top,aurat terbuka kemana-mana,gampang sekali digandeng oleh laki-laki walaupun dengan alasan klise hanya sebagai teman. Lisannya berkata:”aku punya harga diri” tapi dimana?.. Bagaimana akan ada laki-laki yang sholeh mau memilihnya menjadi istrinya? sementara setiap saat ia terlihat bergantian laki-laki yang bersamanya. Apakah ada laki-laki sholeh yang mau memiliki istri seperti ini?

Ketika seorang laki-laki yang sholeh memilih seorang istri,tentunya ia berharap bahwa istrinya akan menutup aurat,menurut perintah suami, membatasi pergaulan tidak terlalu bebas pergi-pergi dengan laki-laki lain,bisa menerima penghasilan suami dengan ikhlas,melahirkan dan menyusui anak-anaknya,merawat dan mendidik anak-anaknya,memasak untuk suami,dll seabrek tugas wanita di rumah. Akan tetapi jika si wanita takut bodinya berubah karena melahirkan,takut tangannya kasar karena memasak,takut tidak bebas jalan bersama kawan-kawan lakinya.Maka wanita ini belum bisa mendapat suami yang sholeh,karena sebenarnya dirinya sendiri belum siap menjadi sholehah.

Jika hal seperti ini dipaksakan,misal salah satu pihak belum siap dengan konsekwensi menjadi istri yang sholehah/suami yang sholeh,maka ujung-ujungnya adalah perceraian,nautzubillah.Karena itu perbaiki dulu diri kita,jika telah sepadan..( dalam arti usaha untuk menjadi wanita yang sholehah atau laki-laki yang sholeh) maka insyaAllah Allah tidak akan tinggal diam.
Dia Maha Melihat, Dia Tidak Tidur,Dia Maha Penerima Taubat,yang mengetahui usaha hambanya untuk menjadi lebih baik,memperbaiki diri.

Islam adalah agama yang indah,mengatur segala sesuatu untuk kemaslahatan manusia.Jika ini diterapkan akan terwujud kebahagian yang dijanjikan Allah.Tapi sayang banyak orang islam yang tidak memahami,atau mungkin faham tapi mencoba menutup mata karena lebih memperturutkan kemajuan zaman dan nafsu diri.

Biqudrotika ya Ghoffurur Rahim..
Engkau telah tentukan petunjuk untuk kebahagian kami
Ampunilah jika diri kami masih lebih condong kepada nafs
Berilah kami syafaatmu dan kemudahan mengendalikan diri agar kami bisa termasuk laki-laki yang sholeh/wanita yang sholehah.
Amin..

Seorang Muslim Dalam Menyikapi Tahun Baru Masehi


Sebagian besar manusia memiliki sebuah kebiasaan yang dianggap sebuah
tradisi dunia dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia
adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta
kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang
semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di
beberapa tempat diadakan dzikir berjama'ah menyongsong tahun baru.
Namun apakah kita pernah mengetahui bagaimana Syariat Islam dalam hal
ini ?


Bolehkah Merayakannya?

Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana
'Iedul Fitri, 'Iedul Adha ataupun hari Jum'at. Bahkan hari
tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang
tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rosululloh Shollallohu
'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar
memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shollallohu
'alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: "Apakah disana ada berhala
sesembahan orang Jahiliyah?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau
bertanya, "Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?"
Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya: "Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak
boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Alloh dan dalam hal
yang tidak dimiliki oleh anak Adam". (HR: Abu Daud dengan sanad yang
sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Alloh di tempat
yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada
selain Alloh, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau
hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di
dalam mengagungkan syi'ar-syi'ar kekufuran. Perbuatan ini juga
menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada
syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya
terdapat wala' (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan
syi'ar-syi'ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena
berwala' terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan
batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan Yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa
banyak keburukan, diantaranya:
Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang
kafir yang telah dilarang oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wa
sallam.
Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur'an, dan
sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan
bid'ah yang menyesatkan.
Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat
pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus
pada perbuatan zina, Na'udzubillahi min dzaalika...
Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk
merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain
sebagainya) adalah sia-sia di sisi Alloh subhanahu wa ta'ala. Serta
masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan
kesyirikan kepada Alloh. Wallahu a'lam...

Minggu, 07 Desember 2008

HIKMAH IBADAH HAJI


[1]. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah
Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.

Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya.

“Artinya : Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim dengan menyatakan ; “Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan sujud” [Al-Hajj : 26]

Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia, mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung, najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari segala hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan mereka.

[2]. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah” [HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]

“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]

Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan

Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian menunaikan haji atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah yang didambakan oleh setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.

[3]. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”[Al-Hajj : 27]

Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang.

[4]. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Hajj : 28]

Alah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan muthlaq (secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan) karena banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi dan nanti akan terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.

Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Mereka datang dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan karena riya’ (dilihat orang lain) dan juga bukan karena sum’ah (dibicarakan orang lain). Bahkan mereka betauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta mengikrarkan (tauhid) di antara hamba-hamba-Nya, dan saling menasehati di antara orang-orang yang datang (berhaji dan sebagainya,-pent) tentangnya (tauhid).

Mereka thawaaf mengelilingi Ka’bah, mengagungkan-Nya, menjalankan shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo’a supaya ibadah haji mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni, dikembalikan dengan selamat ke nergara masing-masing dan diberi anugerah kembali lagi untuk berdo’a dan merendah diri kepda-Nya.

Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh orang yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa mempelajarinya agar mengetahui maknanya, merasakannya, mewujudkan di dalam hati, lisan dan amalan mereka. Dan bahwa maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk Allah dan beriman bahwa Dia adalah ‘ilah mereka yang haq, Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji dan lainnya.

[5]. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati
Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah, berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling menasehati, sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong, membantu untuk maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat, zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah.

Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya, menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan taqwa.

[6]. Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta memberi peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai hukum-hukum agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa menunaikan kewajiban mereka dengan ilmu.

Dari Makkah inilah tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama. Kemudian (berkembang) dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari seluruh negeri-negeri Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada ilmu dan ahli ilmu. Namun semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah yang tua.

Maka wajib bagi para ulama dan da’i, dimana saja mereka berada, terlebih lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, untuk mengajari manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah, orang-orang asli dan pendatang serta para penziarah, tentang agama dan manasik haji mereka.

Seorang muslim diperintahkan untuk belajar, bagaimanapun (keadaannya) ia, dimana saja dan kapan saja ; tetapi di lingkungan rumah Allah yang tua, urusan ini (belajar agama) lebih penting dan mendesak.

Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah belajar tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan faqih terhadap agama” [HR Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]

Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika engkau dapati seorang alim ahli syari’at Allah, maka pergunakanlah kesempatan. Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu tidak bisa diraih oleh orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta pemalu. Ilmu itu membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.

Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu kelemahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Allah tidak malu dari kebenaran” [Al-Ahzab : 53]

Karenanya seorang mukmin dan mukminah yang berpandangan luas, tidak akan malu dalam bab ini ; bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan menampakkan kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan tersebut.

[7]. Menyebarkan Ilmu
Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-saudaranya yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya seperjalanan, yang di mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah dan di segala tempat. Ini adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan. Engkau bisa menyebarkan ilmu-mu dan menjelaskan apa yang engkau miliki, akan tetapi haruslah dengan apa yang engkau ketahui berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan istimbath ahli ilmu dari keduanya. Bukan dari kebodohan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

[8]. Memperbanyak Ketaatan
Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah)” [Al-Hajj : 29]

Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di tanah haram. Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira’atul qur’an, tasbih, tahlil, dzikir. Juga perbanyaklah amar ma’ruf nahi mungkar dan da’wah kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana banyak orang berkumpul dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya. Maka wajib bagi mereka untuk mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

[9]. Menunaikan Nadzar
Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi seandainya seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan, maka wajib baginya untuk memenuhinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaati-Nya” [HR Bukhari]

Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat, thawaf ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk menunaikannya di tanah haram ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar” [Al-Hajj : 29]

[10]. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin
Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang aman ini.

Seseorang dapat mengobati orang sakit, menjenguknya, menunjukkan ke rumah sakit dan menolongnya dengan harta serta obat.

Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.

“Artinya : ….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Hajj : 28]

[11]. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah
Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih (ucapan Subhanallah), hamdalah (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa ilaaha ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan hauqallah (ucapan Laa haula wa laa quwata illa billah).

“Artinya : Dari Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak mengingat-Nya adalah sebagai orang hidup dan yang mati”. [HR Bukhari, Bahjatun Nadzirin no. 1434]

[12]. Berdo’a Kepada-Nya
Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan diri dan terus menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia menolong untuk berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.

[13]. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya
Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, melempar jumrah, maupun sewaktu shalat, qira’atul qur’an, berdzikir, berdo’a dan lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya dengan kosentrasi dan ikhlas.

[14]. Menyembelih Kurban
Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sewaktu haji wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkurban 100 ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban. Kurban itu adalah suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.

Demikianlah sebagian hikmah dari ibadah haji (rukun Islam yang ke lima) mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya, dan senantiasa diberi petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta diberi kemudahan untuk menunaikannya. Amin

Senin, 10 November 2008

Anak AA Gym Lahir


Warga disekitar Komplek Pesantren Daarut Tauhid (DT) Bandung menanggapi dingin atas berita kelahiran anak pertama Abdulah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym dari istri keduanya, Alfarini. Warga sudah sejak lama tidak melihat lagi keberadaan Alfarini yang sempat tinggal di sebuah rumah di
Komplek KPAD Gegerkalong Bandung. "Sudah lama pindah ke Depok. Katanya, sih sudah lahir," kata Ny Ina, yang tinggal beberapa meter dari bekas rumah tinggal Alfarini, Kamis (30/10).

Ia merasa kasihan kepada Alfarini. Sejak tinggal di KPAD, istri kedua Aa Gym itu sangat jarang bergaul dengan warga. Kata Ina, kemungkinannya karena tertekan dengan isu poligami yang dilakukan Aa Gym. Pasalnya, Aa Gym sendiri mengembangkan konsep Manajemen Qolbu dan menulis buku kelurga Sakinah. Namun, pada kenyataanya ia menyakiti orang yang paling dekat dengannya, Ninih Mutmainah.

"Dia menciptakan lagu, jagalah hati jangan kau sakiti. Tapi menyakiti orang di sampingnya," tambah Ina. Keterangan yang diperoleh dari Humas DT Farihin,

Alfarini melahirkan anak laki-laki atas penikahnnya dengan Aa Gym di Depok. Kondisi bayinya sehat dengan berat badan 3,8 kilogram dan panjang 51 sentimeter. Hanya saja ia tidak bisa menjelaskan kepastian waktu lahirnya putra Aa Gym itu.

Tersiarnya kabar gembira itu, beberapa perwakilan santri DT akan berkunjung ke Depok. Namun ia belum memastikan jadwal kunjungan itu. Ditambahkan dia, Kamis pagi sekitar pukul 8.00, istri pertama Aa Gym, Teh Ninih Mutmainah bersama komunitas ahwat DT melakukan doa bersama untuk medoakan keselamatan anak Alfarini. "Teh Ninih ikut berbahagia atas kelahiran itu. Dia beroda semoga menjadi anak yang shaleh," kata Farihin.

Dipulangkan ke Orangtua, Ulfah Nangis Takut Dicemooh Teman


Lutviana Ulfah secara resmi sudah dikembalikan ke orangtuanya. Setelah mengadakan pertemuan beberapa jam, istri kedua Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji itu menangis.

"Terus terang Ulfah menangis karena ketakutan dengan pemberitaan media. Bagaimana kalau sekolah, ketemu dengan teman-teman," ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Seto Mulyadi (Kak Seto) kepada detikcom, Minggu (9/11/2008).

Kak Seto mengatakan, Ulfah sudah diserahkan ke orangtuanya Suroso. Karena menikah siri, pengembalian Ulfah tidak mempunyai hukum tetap. Namun karena menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), pernikahan itu sah secara agama. Sehingga tidak bisa cerai karena perceraian dibenci Allah.

"Ini semacam sinkronisasi atau kompromi antara hukum dengan syariat Islam. Caranya dititipkan kepada orangtuanya. Karena secara agama dengan usia yang belia, Ulfah dipandang belum bisa menanggung beban rumah tangga," jelasnya.

Menurut Kak Seto, kebutuhan biologis antara Ulfah dan Syekh Puji ditunda dahulu sampai umur Ulfah mencukupi sesuai UU.

"Sabar menunda. Itu akan memberi beban kepada istri secara medis dan psikologi," imbuhnya.

Di akhir pertemuan, Kak Seto mengusulkan agar Ulfah istirahat ke suatu tempat untuk menenangkan hatinya karena pemberitaan sejumlah media.

"Coba ke suatu tempat bukan di rumah. Tetapi tetap bersama orangtuanya. Ya istirahat. Karena pemberitaan media mengguncang jiwa Ulfah," tandasnya

Kronologi Eksekusi Mati Amrozi Cs

Jakarta - Tiga terpidana mati Bom Bali: Amrozi, Ali Gufron alias Mukhlas, dan Imam Samudra telah mati ditembak. Kejagung sebagai eksekutor memastikan ketiga otak peledakan bom Bali itu meninggal pukul 00.15 WIB, Minggu (9/11/2008).

Bagaimana kronologi eksekusi dan apa yang terjadi pada detik-detik menjelang eksekusi? Kejagung belum menjelaskan secara detil.

Seorang sumber detikcom di dalam LP menceritakan kronologi sebagai berikut:

Pukul 14.00 WIB, Sabtu (8/11/2008)

Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra terlihat di sel-sel isolasi mereka di LP Batu Nusakambangan. Dari wajahnya, mereka terlihat santai, dan gembira. Mereka memberi salam kepada napi yang lewat depan sel mereka.

Pukul 23.00 WIB

Ratusan anggot Brimob dan Densus memenuhi bangsal LP Batu Nusakambangan. Kemudian secara serentak, mereka masuk ke dalam sel-sel Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra.

Pukul 23.15 WIB

Ratusan aparat Brimob dan Densus keluar dari sel dengan membawa serta Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra. Ketiga terpidana mati itu tampak jelas di antara kerumunan polisi itu. Amrozi cs memekikkan takbir berkali-kali saat berjalan di lorong. Takbir mereka disambut pekikan takbir oleh para napi lainnya yang terpaksa tidak tidur saat itu. Suasana cukup gempita.

Pukul 23.25 WIB

Amrozi cs sudah tiba di luar, tak terlihat lagi dari dalam bangsal. Saat itulah suara takbir yang mereka serukan terputus. Pintu bangsal ditutup lagi.

Pukul 23.30 WIB

Ketiga bomber itu dimasukkan ke dalam mobil-mobil yang dipersiapkan. Ada banyak mobil yang berkonvoi. Termasuk truk polisi.

Pukul 23.45 WIB

Setelah persiapan siap, rombongan kemudian berangkat menuju Bukit Nirbaya. Pemberangkatan dipimpin oleh seseorang yang diduga polisi melalui semacam upacara.

Pukul 00.05 WIB

Amrozi cs tiba di Bukit Nirbaya dan langsung digiring ke tiang eksekusi yang telah disiapkan. Mereka diposisikan di tiang-tiang eksekusi itu. Sementara anggota polisi berbaris. Perangkat lain, seperti rohaniawan dan tim dokter juga bersiap di tempat yang disediakan.

Pukul 00.15 WIB

Tiga regu tembak Brimob Polda Jateng melakukan tugasnya menembak Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas dalam waktu bersamaan.

Pukul 00.20 WIB

Tim dokter memastikan bahwa ketiga terpidana bom Bali itu sudah meninggal dunia.

Pukul 00.25 WIB

Ketiga jenazah kemudian digotong dan diangkut ke dalam mobil. Kemudian dibawa menuju ke poliklinik LP Batu dengan kawalan banyak anggota Brimob dan Densus.

Pukul 00.45 WIB

Ketiga jenazah tiba di Poliklinik dan kemudian dimasukkan ke dalam ruang otopsi. Jenazah ditangani oleh tim medis untuk dikeluarkan peluru yang bersarang di badan mereka.

Pukul 02.10 WIB

Ketiga jenazah dimandikan. Adik Muklas dan Amrozi, Ali Fauzi, ikut memandikan.

Pukul 05.00 WIB

Jenazah masih berada di LP Batu. Belum ada kejelasan kapan jenazah akan diterbangkan.(asy/ken)

Sabtu, 01 November 2008

Vonis Mati Amrozi Cs vs Bali Nine, Australia Bermuka Dua


Jakarta - Dalam kasus hukuman mati di Indonesia, Australia dinilai bermuka dua. Australia disatu sisi menolak hukuman mati, tapi di sisi lain berupaya keras meminta hukuman mati di Indonesia diberlakukan, contohnya kasus Bali Nine dan Amrozi Cs.

Dukungan pemerintah Australia atas vonis mati terhadap Amrozi cs, tampak aneh sekali. Mereka menolak menerapkan hukuman mati di negerinya sendiri, tapi mendorong pelaksanaan hukuman mati di negeri orang," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto dalam peluncuran buku berjudul Kontroversi Seputar Hukuman Mati Amrozi CS, di Kafe Galeria, TIM, Jakarta, Kamis (30/10/2008).

Menurut Wawan, sikap Australia ini berbeda dengan kasus the Bali Nine ketika Pengadilan Negeri Denpasar menjatuhkan hukuman mati kepada Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dalam kasus penyelundupan narkoba jenis heroin seberat 8,3 kg pada 17 April 2005 lalu. Namun, ketika Amrozi cs divonis mati, Duta Besar Australia untuk Indonesia David Richie justru menyatakan menyambut baik.

Sebagaimana diketahui, pemerintah Australia sudah menghapus pelaksanaan hukuman mati di seluruh negara bagian mereka menyusul keluarnya Undang-Undang (UU) Penghapusan Hukuman Mati 1973. Orang terakhir yang dihukum mati di Australia adalah Ronald Ryan yang dieksekusi tahun 1967.

Atas vonis mati Amrozi cs, Wawan menambahkan, pemerintah Australia justru menilainya sebagai putusan yang memberikan sedikit kepuasan kepada keluarga korban Bom Bali. "Kalau melihat kasus Bom Bali dan Bali Nine, Australia tampaknya bersikap inkonsistensi. Kalau hukuman mati dianggap bertentangan dengan HAM atau tidak manusiawi, maka seharusnya Australia tidak mendukung alias menolak hukuman mati terhadap Amrozi cs," jelasnya.

Sebaliknya, Wawan menambahkan, jika Australia mendukung diberlakukannya hukuman mati, maka seharusnya mereka juga mendukung penerapan hukuman mati terhadap pelaku Bali Nine. Dalam kasus Bali Nine, PN Denpasar, PT Bali, dan Mahkamah Agung mengganjar hukuman bervariasi terhadap sembilan orang yang terlibat kasus Bali Nine.

Semula, di tingkat PN, dua orang (Andrew Chan dan Myuran Sukumaran-Red), dijatuhi hukuman mati dan tujuh lainnya dijatuhi hukuman seumur hidup. Namun di tingkat banding dan kasasi, hukuman berubah menjadi satu orang lagi dijatuhi hukuman mati,yaitu bernama Scott Rush. Dua tetap dihukum seumur hidup, dan empat lagi dikurangi hukumannya menjadi dua puluh tahun penjara. Menyikapi hukuman mati warga Australia ini, Menteri Luar Negeri Stephen Smith datang ke Jakarta guna melobi pemerintah RI melalui Menteri Luar Negeri Hasan Wirayudha agar tidak mengeksekusi mati ketiga warga Australia itu.

Menurut Wawan, sikap yang ditunjukkan Australia itu terhadap pemberlakuan hukuman mati, berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Inggris yang juga warganya menjadi korban pada peristiwa peledakan bom di Bali itu.

"Inggris, tetap konsisten untuk menolak hukuman mati bagi Amrozi cs meskipun warganya menjadi korban," tandasnya.