ASSaLamu'alaiKUm..wr..wb PertaHankanLah jiKa itu memang Layak Untuk di PERtahankAn wassalamu'alikum wr. wb...
Jumat, 22 Agustus 2008
RAHASIA PUASA
Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.
a.Menguatkan Jiwa.
Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23).
Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).
b.Mendidik Kemauan.
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar.
Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.
c.Menyehatkan Badan.
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
d.. Mengenal Nilai Kenikmatan.
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.
Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).
e.Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini
masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).
TENTANG SEPULUH HARI AKHIR DI BULAN RAMADHAN
"Bila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan Keluarganya . " Demikian menurut lafazh Al-Bukhari.
Adapun lafazh Muslim berbunyi :
"Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.
Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha :
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya. "
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:
Menghidupkan malam: Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:
"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat malam hingga pagi. "
Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali :
"Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum'at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Mahasuci dan Maha tinggi. " Abu Ja 'far berkata: Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa. (HR. Ibnu Abid-Dunya).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak.
Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu 'anhu disebutkan:
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja. "
Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya.
At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallahu 'anhu :
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat. "
Dan dalam hadits shahih diriwayatkan :
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada suatu malam seraya berkata:
Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat ?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga membangunkan Aisyah radhiallahu 'anha pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir.
Dan diriwayatkan adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun). (Hadits riwayat Abu Daud dan lainnya, dengan sanad shahih.)
Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar radhiallahu 'anhu melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat! shalat!" Kemudian membaca ayat ini :
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. " (Thaha: 132).
Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengencangkan kainnya. Maksudnya beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu.
Dalam hadits Anas radhiallahu 'anhu disebutkan :
"Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli mereka).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati (menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. Dan "mengencangkan kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Mengakhirkan berbuka hingga waktu sahur.
Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas uadhiallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur.Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id radhiallahu 'anhu, ia berkata :
"Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja). " Mereka bertanya: "Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai Rasulullah ? "Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum. "(HR. Al-Bukhari)
Ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, oleh sebab munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah sehingga hatinya dipenuhi Al-Ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan Al-Minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.
Mandi antara Maghrib dan Isya'.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha :
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya."
Ibnu Jarir rahimahullah berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.
Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi (sebelumnya), dan berpakaian bagus, seperti dianjurkannya hal tersebut pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya.
Dan tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.
Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta'ala berfirman :
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26).
I'tikaf. Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallahu 'anha :
Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau. "
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya.
Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah:
Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada AI-Khaliq. Mengasingkan diri yang disyari'atkan kepada umat ini yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Orang yang beri'tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan ridha-Nya. Sembga Alllah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita.
SEBAB-SEBAB AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN
Dalam bulan Ramadhan banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan. Di antara sebab-sebab itu adalah :
Melakukan puasa di bulan ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu. "(Hadits Muttafaq 'Alaih)
Melakukan shalat tarawih dan tahajiud di dalamnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi ruasallam bersabda:
"Barang siapa melakukan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih)
Melakukan shalat dan ibadah lain di malam Lailatul Qadar.
Yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'anul Karim. Dan pada malam itu pula dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa melakukan shalat di malam Lailatul Qadar kavena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu . (Hadits Muttafaq 'Alaih)
Memberi ifthar (makanan untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang di dalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi sebab) ampunan dari dosa~osanya, dan pembebasan dirinya dari api Neraka. " (HR. Ibnu Khuzaimah (dan ia menshahihkan hadits ini), Al-Baihaqi dan lainnya).
Beristighfar : Meminta ampunan serta berdo'a ketika dalam keadaan puasa, berbuka dan ketika makan sahur. Do'a orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa ataupun ketika berbuka Allah memerintahkan agar kita berdo'a dan Dia menjamin mengabulkannya.
Allah berfirman :"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu . "(Ghaafir: 60),Dan dalam sebuah hadits disebutkan:
"Ada tiga macam orang yang tidak ditolak do'anya. Di antaranya disebutkan,"orang yang berpuasa hingga ia berbuka" (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa'i dan Ibnu Majah). (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka masing-masing, dan At-Tirmidzi mengatakannya hadits shahih hasan.)
Karena itu, hendaknya setiap muslim memperbanyak, dzikir, do'a dan istighfar di setiap waktu, terutama pada bulan Ramadhan, ketika sedang berpuasa, berbuka dan ketika sahur, di saat turunnya Tuhan di akhir malam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tuhan kami Yang Mahasuci dan Maha tinggi turun pada setiap malam ke langit dunia, (yaitu) ketika masih berlangsung sepertiga malam yang akhir seraya berfirman "Barangsiapa berdo'a kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. " (HR.Muslim).
Di antara sebab-sebab ampunan yaitu istighfar (permohonan ampun) para malaikat untuk orang-orang berpuasa, sampai mereka berbuka. Demikian seperti disebutkan dalam hadits Abu Hurairah di muka, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Jika sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang memiliki seburuk-buruk nasib. Kapan lagi ia mendapatkan ampunan jika ia tidak diampuni pada bulan ini? Kapan dikabulkannya (permohonan) orang yang ditolak pada saat Lailatul Qadar? Kapan baiknya orang yang tidak menjadi baik pada bulan Ramadhan ?
Dahulu, ketika datang bulan Ramadhan, umat Islam senantiasa berdo'a :
"Ya Allah, bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir maka serahkanlah ia kepada kami dan serahkanlah kami kepadanya Karuniailah kami kemampuan untuk berpuasa dan shalat di dalamnya, karuniailah kami di dalamnya kesungguhan, semangat, kekuatan dan sikap rajin. Lain lindungilah kami didalamnya dari berbagal fitnah '
Mereka berdo'.kepada Allah selama enam bulan agar bisa mendapatkan Ramadhan, dan selama enam bulan (berikutnya) mereka berdo'a agar puasanya diterima. Di antara, do'a mereka itu adalah :
"Ya Allah serahkanlah aku kepada Ramadhan, dan serahkan Ramadhan kepadaku, dan Engkau menerimanya daripadaku dengan rela."
KEISTIMEWAAN SEDEKAH
segala puji (hanya) bagi allah, kita memuji-nya baik dalam keadaan senang maupun susah. shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalla, seorang yang pernah mengalami sakit dan tertimpa cobaan. Shalawat dan salam juga semoga tercurah bagi keluarga dan sahabat beliau yang penyabar lagi ridha terhadap taqdir Allah subhanahu wata’ala.
Pada era ini berbagai penyakit semakin menyebar dan bermacam-macam. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan tidak ditemukan obatnya, seperti kanker dan semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata’ala.
Mungkin penyebab utama banyaknya penyakit adalah timbulnya kemaksiatan dan menceritakan maksiat yang telah diperbuat pada orang lain. Oleh karena itu penyakit tersebut menyebar di tengah masyarakat dan mencelakakan mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (Q.S asy-Syura: 30)
Di antara penyakit tersebut ada yang berupa ujian dari Allah yang ditimpahkan kepada hamba-Nya di dunia hamba tersebut merasakan penuh dengan musibah dan kesedihan, penuh dengan penyakit dan bahaya.
Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah mengetuk semua pintu dan melakukan semua sebab, namun mereka tidak menemukan pintu (hidayah) Allah subhanahu wata’ala dan sebab yang dapat menyembuhkan penyakitnya. maka saya tergerak menulis untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa dukanya lenyap, kesedihan, dan penyakitnya dapat terobati.
Wahai orang sakit yang kepayahan, orang yang gelisah lagi kecewa, orang yang tertimpa ujian lagi sabar! Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu. Keselamatan selalu tercurah padamu, sebanyak duka nestapa, dan rintihan yang keluar dari bibirmu.
Penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain tertawa, sedangkan engkau menangis. Sakitmu tidak pernah reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya.
Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab, dan membuatmu terlepas dari apa yang engkau derita bertahun-tahun. Obat itu terdapat pada sabda Rasulullah subhanahu wata’ala, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Ja-mi').
Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak bersedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkanmu dari penyakit yang engkau derita. Cobalah sekarang, dan hendaknya engkau percaya bahwasanya Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan rintangan, baik berupa musibah maupun cobaan. Mereka dari golongan Allah subhanahu wata’ala yang diberi taufiq oleh Allah telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyyah dan obat ilahiyyah. Para Salafus Shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya telah datang...!!
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air di dalam sumur yang engkau gali dan menahan aliran darah di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).
Seorang laki-laki pernah ditimpa penyakit kanker. Ia lalu mencari obat keliling dunia, namun ia tidak mendapatkannya. Ia kemudian bersedekah pada seorang ibu anak-anak yatim dan Allah subhanahu wata’ala pun menyembuhkannya.
Kisah lain, orang yang mengalami kisah ini menceritakan kepadaku, ia berkisah, "Anak perempuan saya yang masih kecil tertimpa penyakit di tenggorokannya. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya mengeluhkannya kepada banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Sakitnya tidak bisa disembuhkan. Hampir saja saya yang jatuh sakit, karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya kami memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit saja, hingga kami putus asa dari semuanya, kecuali dari rahmat Allah subhanahu wata’ala. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang Shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’) Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Saya pun mengeluarkan sedekah secukupnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, “Engkau salah seorang yang mendapatkan nikmat dan harta yang banyak. Hendaknya engkau bersedekah sesuai dengan banyaknya hartamu.” Saya pun pergi pada kesempatan ke dua. Saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam, dan lainnya dengan menghabiskan biaya yang besar. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah, saya tidak pernah menyangka bahwa akhir suntikan yang saya berikan pada anak saya adalah suntikan yang saya berikan sebelum saya mengeluarkan sedekah itu. Anak saya sembuh total, walhamdu lillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apa pun. Semenjak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya untuk wakaf setiap saya merasakan nikmat, penuh berkah, dan sehat baik diri pribadi, harta, dan keluarga saya. Saya mewasiatkan pada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus-menerus, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah subhanahu wata’ala tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik.”
Kisah lainnya, diceritakan oleh pelakunya sendiri. Ia berkata, “Saudara laki-laki saya pernah pergi ke suatu tempat. Di tengah jalan, ia berhenti. Sebelumnya ia tidak pernah mengeluh sakit apa pun. Pada saat itu tiba-tiba ia jatuh pingsan, seolah-olah peluru menembus kepalanya. Kami mengira ia tertimpa al-'ain (sakit karena pengaruh mata dengki seseorang) atau kanker atau pembuluh darahnya tersendat. Kami lalu membawanya ke berbagai rumah sakit dan klinik. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan dan rongsen. Hasilnya, kepalanya sehat-sehat saja, namun ia mengeluh sakit yang membuatnya tidak bisa berbaring. Juga tidak bisa tidur dan hal ini berlangsung lama. Bahkan jika sakitnya parah, ia tidak bisa bernafas apalagi bicara. Saya lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai harta yang bisa kami sedekahkan. Semoga saja Allah subhanahu wata’ala menyembuhkanmu?” Ia menjawab, “Ada”. Lalu ia memberiku kartu ATM dan aku cairkan dari kartu tersebut sekitar lima ribu real. Setelah itu saya menghubungi salah seorang yang Shalih yang mengenal beberapa orang fakir, agar ia membagikan uang tersebut kepada mereka. Saya bersumpah demi Allah Yang Maha Mulia, saudara saya sembuh dari sakitnya pada hari itu juga, sebelum orang-orang fakir itu mendapatkan harta titipan tersebut. Saya benar-benar yakin bahwa sedekah mempunyai pengaruh yang besar bagi kesembuhan penyakit seseorang. Sekarang sudah berlalu satu tahun, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit di kepalanya lagi, alhamdulillah. Dan saya wasiatkan kepada kaum muslimin agar mengobati penyakit mereka dengan sedekah.”
Berikut kisah lainnya, pelakunya sendiri yang menceritakan kisah ini. Ia berkata, “Anak perempuan saya menderita sakit demam dan panas. Ia tidak mau makan. Saya membawanya ke beberapa klinik, namun panasnya masih tinggi dan keadaannya semakin memburuk. Saya masuk rumah dengan gelisah. Saya bingung apa yang harus saya perbuat. Istri saya berkata, “Kita akan bersedekah untuknya”. Saya lalu menghubungi seseorang yang mengenal orang-orang miskin. Saya berkata padanya, “Saya harap anda datang shalat bersama saya di masjid. Ambillah dua puluh kantong beras dan dua puluh kotak ayam di tempat saya, lalu bagikanlah pada orang-orang yang membutuhkan”. Saya bersumpah demi Allah dan saya tidak melebih-lebihkan cerita. Lima menit setelah saya menutup telpon, tiba-tiba saya melihat anak saya menggerakkan kaki dan tangannya, bermain dan melompat di atas matras. Ia pun makan hingga kenyang dan sembuh total. Ini semua berkat karunia Allah subhanahu wata’ala. Saya wasiatkan semua orang untuk mengeluarkan sedekah ketika tertimpa penyakit.”
Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu. Bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah subhanahu wata’ala. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar-mandir ke dokter untuk mengobati penyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari koceknya.
Jika engkau telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri. Namun obatilah penyakitmu dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, ketahuilah engkau sebenarnya telah disembuhkan walau sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah subhanahu wata’ala memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya atau karena kemaksiatan menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak do’a di sepertiga malam terakhir.
Sedangkan bagi anda yang diberi nikmat sehat oleh Allah subhanahu wata’ala, ja-ngan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit dulunya juga sehat, dan orang sehat pun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati”.
Apakah engkau akan menunggu penyakit hingga engkau berobat dengan sedekah? Jawablah...! Dan segeralah bersedekah
SUDAH IKHLASKAH KITA SEBAGAI HAMBA ALLAH
Ketika sudah merasakan nikmat CintaNya, bagai orang kasmaran, mereka mencanduNya jangankan melihat, hanya mendengar namaNya bergetar hati mereka semuanya terasa indah asal dariNya 'tanah liat rasa coklat' begitu kata pepatah neraka mungkin tak mengapa kalau itu memang dapat merasakan CintaNya surga juga bukanlah tujuan utama, karena itu cuma sebagian dari wujud CintaNya
Perkataan ikhlas berasal dari bahasa Arab dengan akar kata kh l sh, yang berarti 'murni', 'suci', 'tidak bercampur', 'bebas'. Ikhlash (Arab) berarti 'pengabdian yang tulus' (sincere devotion), 'ketulusan', 'kejujuran'. IKHLAS. dalam kamus bahasa Indonesia itu sinonim dari tanpa pamrih. Suatu pekerjaan atau kegiatan, yang kita kerjakan untuk orang lain tanpa kita mengharap imbalan apapun dari orang yang kita tolong. Sedangkan ikhlas menurut Islam adalah setiap kegiatan yang kita kerjakan semata-mata hanya karena mengharapkan Ridho Allah SWT
Banyak arti dan definisi ikhlas dari tiap2 ahli bahasa yang jelas ikhlas itu yah sesuatu yang dilakukan tanpa meminta imbalan apapun. Dalam islam kata2 ikhlas sering kita dengar bahkan sering disebut,yang jelas senantiasala kita ikhlas dengan segala apa yang ada pada kita saat ini dan ikhlas kalau suatu saat Allah mengambil nya kembali. Banyak hal yang harus kita lakukan dengan ikhlas dalam hidup ini,sebagai muslim dan yang percaya akan kebesaran Allah tentu senantiasa bisa melakukan segala sesuatu dengan ikhlas. Dan disini ingin di sampaikan apakah kita sebagai hamba Allah sudah ikhlas ? kalau masih sering mengeluh dan menggerutu sepertinya belum bisa dikatakan ikhlas.Sesabar apapun kita tapi kalau masih sering merasa ada yang kurang dan ada yang mengganjal berarti ikhlas dalam diri kita belum ada. Saudara2 seiman,sebagai hamba Allah tentu kita ingin menjadi seseorang yang ikhlas dalam segala hal,dan bagaimana mencapai tingkat keikhlasan itu .Mencapai suatu tingkat keikhlasan bukan satu hal yang mudah karena semua ini dapat terjadi dimana tingkat ibadah kita sebagai makhluq kepada sang khaliq,penghambaan kita kepada sang khaliq. Biasa nya dalam ilmu tausawuf ikhlas adalah bagian terpenting dalam melaksanakan ibadah kiat sebagai makhluq Allah. Dimana apabila kita beribadah bukan hanya sekedar mengharap surga atau takut kepada neraka,tapi kita beribadah karena kita sadar kita hanya seorang hamba yang memohon ridha Allah dengan penuh keikhlasan semata.Karena ikhlas itu tanpa pamrih dan kita sebagai umat yang sudah mendapat nikmat luar biasa dari Allah sudah sewajar nya kita melakukan sesuatu itu dengan ikhlas dan kesadaran yang penuh. Mungkin kita semua pernah mendengar kisah Rabiatul adawiyah yang tingkat keikhlasan nya sduah mencapai tingakt tinggi,yang senantiasa berdoa kepada Allah dan salah satu doanya yang membuat hati ini bergetar yaitu : "Ya Allah bila aku beribadat ini karena menginginkan syurgaMu, maka jauhkanlah aku dari syurgaMU. Dan bila aku beribadat ini karena takut dengan nerakaMu, maka masukkanlah aku kedalam nerkaMu".Sanggupkah kita melakukan seperti ini ? hanya Allah yang tau,insyaAllah kita mampu asal kita sadar bahwa kita hanya seorang hamba yang hanya pantas memohon kepada Allah
ikhlas merupakan suatu perkara yang sangat tinggi sampai-sampai pada hadits qudsi dikatakan: "ikhlas adalah salah satu rahasia-Ku dan akan Ku-buka pada hamba-hamba-Ku yang Ku-pilih" Selain itu satu-satunya kaum yang sudah terbebas dari godaan syethan adalah kelompok hamba yang ikhlas bukan lainnya(bukan islam, bukan mukmin dst .. hanya yang mukhlasin). Masalahnya bagaimana usaha kita supaya bisa mencapai derajat ikhlas dengan sebenarnya. Bukan sekedar nampak pada simbolisme ikhlas yang mungkin bisa sesaat terlihat pada diri seseorang. Bicara tentang ikhlas memang ada sisi menariknya Rasanya sulit menemukan perbuatan yang tidak ternoda oleh hal-hal selain demiAllah, terutama godaan riya', ujub bahkan syirik. Ketika tangan ini memberikan shadaqah, di hati muncul godaan "biar diliat tetangga". Ketika> mulut ini mengucapkan khotbah suci, di hati ada bisikan "biar dikata alim ulama". Kalau tidak salah Rasullah saw. sendiri pernah mengomentari penyakit bagaikan semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang kelam.
Yang pasti marilah kita mencoba mencapai tingkat keikhlasan dalam diri kita masing2 sudah dapat kita di katakan ikhlas ?sebab keikhlasan yang benar-benar tulus semata-mata karena Allah tersebutakan dicapai setelah kita mendapat hidayah_nya dan hal itu dilakukan karena rasa kecintaan kepada Nya.Dan apabila ada (seseorang) dalam proses mencari ridho-NYA ?? sehingga timbul kesadaran betapa besar ni'mat yang tak sanggup kita membalasnya melainkan hanya dengan keikhlasan kita dalam beribadah kepada-NYA ?? dan mungkinkah kadar keikhlasan yang berbeda satu sama lain itu tergantung tebal dan tipisnya iman seseorang ?? dapatkah dikatakan bahwa tingkat keikhlasan seseorang itu belum sempurna manakala yang bersangkutan belum pernah mengalami perjalanan ruhani (walaupun sangat ingin & telah berusaha), lalu kiat-kiat/ amalan-amalan apa yang harus dijalaninya agar seseorang dapat mencapai tingkat keikhlasan yang tinggi ?Senantiasalah kita melakukan segala sesuatu karena Allah semata dan karena kita hamba yang pantas bersyukur . Mungkin tingkatan Ikhlas dicapai sebanding dengan tingkat kecintaan dan keyakinan seseorang pada Alloh (yang tentu saja dicapai secara berat dan bertahap melalui perjalanan ruhani) ketika mereka sudah dapat merasakan (malah mungkin melihat dengan mata hatinya) bahwa betapa sungguh sangat besar nikmat, karunia, kasih sayang dan cinta Alloh pada dirinya dan semesta alam rasa dirinya akan mengatakan jangankan semua pahala ibadahnya untuk membayar tiket masuk surga, untuk membalas nikmat sepasang mata saja rasanya belum cukup Tak ada pahala yang setara untuk membayar nikmatNya, sehingga ibadah mereka hanyalah Ikhlas untuk semua CintaNya
Hanya ini yang bisa di sampaikan sebab penulis sendiri belum bisa dikatakan orang yang ikhlas seba masih ada rasa takut dan cemas serta harap,tapi insyaAllah mencoba menjadi ikhlas dalam hidup dan mencoba menjalani hidup dengan ikhlas,karena untuk mencapai tingkat tertinggi seperti ikhals nya seorang Rabiatuladawiyah rasanya bukan hal yang mudah sebab bagi penulis sendiri melakukan sesuatu sesuatu dan berdoa. Beribadah karena rasa Khauf (takut) pada Neraka dan berharap ridha Allah dan surga nya,ini salah satu motifasi dalam beribadah.Wallahualam.
Sinar Cahaya Ayat kursi
perihal
seekor syaitan yang duduk di atas
pintu rumah. Tugasnya ialah untuk
menanam keraguan di hati suami
terhadap kesetiaan isteri di rumah dan
keraguan di hati isteri terhadap
kejujuran suami di luar rumah. Sebab
itulah Rasulullah tidak akan masuk
rumah
hingga Baginda mendengar jawaban
salam dari isterinya. Di saat itu
syaitan akan
lari bersama-sama dengan salam itu.
Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-
hadis:
1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
bila berbaring di tempat tidurnya,
Allah SWT mewakilkan dua orang
Malaikat memeliharanya hingga subuh.
2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
di
akhir setiap sembahyang Fardhu,
dia akan berada dalam lindungan Allah
SWT hingga sembahyang yang lain.
3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
di
akhir tiap sembahyang, dia
akan masuk syurga dan barang siapa
membacanya ketika hendak tidur,
Allah SWT akan memelihara rumahnya
dan rumah-rumah disekitarnya.
4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
di
akhir tiap-tiap shalat fardhu,
Allah SWT menganugerahkan dia setiap
hati orang yang bersyukur,
setiap perbuatan orang yang benar,
pahala nabi2, serta Allah melimpahkan
rahmat padanya.
5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
sebelum keluar rumahnya, maka
Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat
kepadanya - mereka semua
memohon keampunan dan mendoakan
baginya.
6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
di
akhir sembahyang, Allah SWT
akan mengendalikan pengambilan rohnya
dan dia adalah seperti orang
yang berperang bersama Nabi Allah
sehingga mati syahid.
7) Barang siapa yang membaca ayat
Al-Kursi ketika dalam kesempitan
niscaya Allah SWT berkenan memberi
pertolongan kepadanya.
Dari Abdullah bin 'Amr r..a.,
Rasulullah S.A.W. bersabda,
"Sampaikanlah pesanku biarpun satu
ayat..."
"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk
Dunia-mu, utamakan SHOLAT dan ZAKAT
untuk Akhirat-mu"
Subhanallah. ..
Cinta kepada -Mu
ya rabb keagungan mu selalu ku rindui,cinta mu buat hati mabuk,kala malam di solat sunat itu air mata jatuh, di sunat itu aku terlalu megejar fadilatnya hingga aku lupa aku mengerjar sembahan mu bukan sembahan fadilat itu, di solat sunat itu di lebihkan,tapi yang wajib itu tidak sebagus sunat,di wajib itu hanya sekadar tanpa air mata itu jatuh, kelak apakah igin ku hujah dengan mu,aku sibuk pertahan kan yang sunat sedangkan yang wajib itu aku lalai kan,ya Allah maafkan aku kerna megejar yang sunat itu buat aku terlupa akan tujuan aku bersolat itu sembah juga igat akan diri mu, semoga maafkan keterlanjuran diri ku lalu itu, semoga cinta kepada mu bisa buat aku karam dan mabuk mengingati mu,cinta itu melebihi aku cinta dan kasih pada dunia yang fana ini juga pada wanita kejadian mu,smoga wanita itu bisa buat aku semakin igat pada mu, ya Allah bahgia akan diri ini selalu igat akan diri mu, aku sembah juga cinta kepada mu kerna aku kagum dengan keagungan mu, ya Allah bisa ia selalu.......